
Masyarakat pencinta bola di Kabupaten Pacitan, Jatim, mengeluhkan sulitnya menonton siaran langsung Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang disiarkan stasiun TV swasta sejak Jumat (11/6).
"Sebenarnya kami telah berlangganan TV berbayar, tapi justru tidak bisa melihat siaran piala dunia," kata David, salah satu pelanggan TV berbayar di Pacitan, Senin.
Selain alasan geografis, David menuding hal itu disebabkan kebijakan sejumlah media televisi swasta nasional yang dengan sengaja mengacak tayangan/siaran.
Kondisi geografis di Pacitan yang dikelilingi gunung serta bukit menyebabkan siaran televisi tak bisa mereka nikmati hanya dengan menggunakan antena biasa.
Akibatnya, mereka terpaksa harus membeli perangkat antena khusus atau parabola agar bisa menonton setiap tayangan televisi nasional.
"Masalahnya, sejak ada piala dunia, tayangannya justru diacak. Kami hanya bisa menonton jika membeli perangkat antena parabola khusus yang harganya mencapai jutaan rupiah," kata Sigit, penggila bola lain di Pacitan.
Kenyataan ini membuat sebagian besar masyarakat yang menjadi potensi pemirsa siaran Piala Dunia di kota "1001 goa" ini kecewa.
Apalagi harga antena parabola berikut "receiver" atau piranti alat penerima dengan merek tertentu itu, dua pekan terakhir harganya melonjak drastis.
Sebelum ada siaran piala dunia, harga alat ini masih di kisaran Rp1 juta. Namun sejak menjelang dimulainya kegiatan sepak bola akbar di Afrika Selatan, harganya naik hingga Rp2,2 juta per unitnya.
"Sayang jika kami harus membeli alat baru. Karena toh nanti fungsinya hanya untuk beberapa minggu saja," tutur Sigit.
Pembatasan siaran piala dunia oleh media televisi swasta nasional itu, juga dikeluhkan sejumlah agen televisi berbayar di Pacitan.
Selain menyebabkan omzet pendapatan mereka turun drastis, mereka khawatir pelanggan jaringan televisi berbayar berhenti berlangganan.
Ia membandingkan dengan pelaksanaan piala dunia sebelumnya maupun Piala Eropa 2008, penghasilannya terjun bebas.
"Saat itu per bulan saya mampu menggaet 48 pelanggan. Kini kondisinya berbalik. Bahkan, hingga pertengahan bulan Juni, tak satupun warga menjadi pelanggannya," kata Donal, salah satu agen jasa layanan televisi berbayar di Pacitan.
Ia mengatakan, pada Piala Dunia 2006 dan Piala Eropa 2008 omzet perbulannya mencapai Rp9 juta lebih.
Transaksi juga masih dilakukan saat memasuki bulan-bulan biasa, yakni berkisar antara 5-10 pelanggan baru.
"Namun begitu program siaran piala dunia diacak/dibatasi, intensitas permintaan TV berlangganan nyaris nol," keluhnya.

Tidak ada komentar:
Poskan Komentar