Translate 2 ur Languages

Senin, 26 Juli 2010

NUSANTARA-Festival Layang-Layang Internasional Hijau Jakartaku


Ratusan layang-layang kemarin (24/7) melayang di langit Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta Utara. Layang-layang itu berlaga dalam Festival Layang-Layang Internasional Hijau Jakartaku.

Festival tersebut diikuti kontestan dari 15 provinsi serta peserta internasional dari sembilan negara, yakni Brazil, Jepang, Jerman, Belanda, Prancis, Korea Selatan, Australia, Singapura, dan Malaysia.

Layang-layang yang diterbangkan terdiri atas berbagai kategori, mulai tiga dimensi hingga layang aduan Rokaku. "Tadinya saya mau terbangkan stunt kites (layang-layang akrobatik), tapi di sini anginnya terlalu kencang. Stunt kites hanya bagus kalau terbang dengan angin yang tidak terlalu besar," ujar Mauguen Nichel, pelayang asal Prancis.

Festival yang berlangsung dua hari tersebut mempertandingkan empat jenis layang-layang, yakni kreasi, sport, kite buggy (berkendara dengan tenaga layang-layang), dan layangan malam.

Aksi peserta asal Malaysia yang menerbangkan layang-layang tanpa rangka berhasil mencuri perhatian pengunjung. Mereka menerbangkan karakter buaya raksasa, harimau, hingga Upin dalam serial kartun Upin-Ipin.

Sementara itu, tim Korea mempertunjukkan kebolehan mengendalikan layang-layang sport dengan empat tali kendali atau disebut revolution. "Kalau tadi lihat kita punya Sponge Bob yang besar sekali, tapi sekarang sudah turun," ujar Kang Seog Myeong, peserta asal Korea.

Delegasi dari dalam negeri juga tak mau kalah. Pelayang asal DKI Jakarta kemarin menerbangkan layang-layang ondel-ondel dan tanpa rangka (soft kites) berbentuk ikan koi. "Sekarang layang-layang lagi ramai bentuk ikan koi. Saya dapat banyak pesanan dari luar negeri," ujar Endang Ernawati, pemilik Museum Layang-Layang Indonesia.

Tak hanya adu kreasi layang-layang, peserta juga mempertarungkan layangan di udara atau kerap disebut fighting kites. Sepintas bentuk layangan aduan itu tak jauh berbeda dengan layang-layang yang lazim ditemui, hanya bentuknya sedikit lebih besar.

"Kalau di Brazil, sesi fighting kites ini lebih banyak yang suka. Sembilan puluh persen pela­yang main fighting kites," tutur Ebeguiel, pelayang asal Sao Paulo, Brazil.

Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi mengatakan, selain sebuah permainan yang atraktif, layang-layang adalah representasi kebebasan manusia untuk berekspresi dan berkreasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Ratusan layang-layang kemarin (24/7) melayang di langit Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta Utara. Layang-layang itu berlaga dalam Festival Layang-Layang Internasional Hijau Jakartaku.

Festival tersebut diikuti kontestan dari 15 provinsi serta peserta internasional dari sembilan negara, yakni Brazil, Jepang, Jerman, Belanda, Prancis, Korea Selatan, Australia, Singapura, dan Malaysia.

Layang-layang yang diterbangkan terdiri atas berbagai kategori, mulai tiga dimensi hingga layang aduan Rokaku. "Tadinya saya mau terbangkan stunt kites (layang-layang akrobatik), tapi di sini anginnya terlalu kencang. Stunt kites hanya bagus kalau terbang dengan angin yang tidak terlalu besar," ujar Mauguen Nichel, pelayang asal Prancis.

Festival yang berlangsung dua hari tersebut mempertandingkan empat jenis layang-layang, yakni kreasi, sport, kite buggy (berkendara dengan tenaga layang-layang), dan layangan malam.

Aksi peserta asal Malaysia yang menerbangkan layang-layang tanpa rangka berhasil mencuri perhatian pengunjung. Mereka menerbangkan karakter buaya raksasa, harimau, hingga Upin dalam serial kartun Upin-Ipin.

Sementara itu, tim Korea mempertunjukkan kebolehan mengendalikan layang-layang sport dengan empat tali kendali atau disebut revolution. "Kalau tadi lihat kita punya Sponge Bob yang besar sekali, tapi sekarang sudah turun," ujar Kang Seog Myeong, peserta asal Korea.

Delegasi dari dalam negeri juga tak mau kalah. Pelayang asal DKI Jakarta kemarin menerbangkan layang-layang ondel-ondel dan tanpa rangka (soft kites) berbentuk ikan koi. "Sekarang layang-layang lagi ramai bentuk ikan koi. Saya dapat banyak pesanan dari luar negeri," ujar Endang Ernawati, pemilik Museum Layang-Layang Indonesia.

Tak hanya adu kreasi layang-layang, peserta juga mempertarungkan layangan di udara atau kerap disebut fighting kites. Sepintas bentuk layangan aduan itu tak jauh berbeda dengan layang-layang yang lazim ditemui, hanya bentuknya sedikit lebih besar.

"Kalau di Brazil, sesi fighting kites ini lebih banyak yang suka. Sembilan puluh persen pela­yang main fighting kites," tutur Ebeguiel, pelayang asal Sao Paulo, Brazil.

Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi mengatakan, selain sebuah permainan yang atraktif, layang-layang adalah representasi kebebasan manusia untuk berekspresi dan berkreasi.

0 komentar

Poskan Komentar

Pengikut

Daftar Label

Follow by Email

Ads 468x60px

Kalendar

Popular Posts

 
© Copyright 2010-2011 Wiro Sableng 810 All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.