Translate 2 ur Languages

Senin, 30 Agustus 2010

BENCANA ALAM-Gunung Sinabung Meletus, Sekitar 12 Ribu Warga Mengungsi

Gunung Sinabung di kawasan Kabupaten Karo, Sumut, kemarin (29/8), tepatnya pukul 00.08, meletus. Letusan terjadi dua kali. Lahar panas juga mulai turun ke kaki gunung.

Wartawan Sumut Pos (Jawa Pos Group) melaporkan, semburan debu dan asap mengakibatkan desa gelap. Jalan dipenuhi debu berbau sulfur alias belerang. Tanaman juga diselimuti debu. Selain itu, jarak pandang hanya 3-5 meter. Aroma belerang dari asap dan debu menyesakkan pernapasan.

Ribuan warga di radius 6 kilometer dari puncak gunung itu berangsur-angsur mengungsi. Sekitar 12.000 warga dari 12 desa di empat kecamatan di lereng gunung dievakuasi ke pendapa rumah dinas bupati Karo di Kabanjahe. Sebagian lagi diungsikan di Jamburta Ras, Berastagi.

"Semua warga di (permukiman, Red) radius 6 kilometer harus diungsikan," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono di posko pengawasan Desa Sukanalu, Kecamatan Naman Teran, Karo, kemarin. Posko itu berjarak sekitar 4 kilometer dari lokasi keluarnya magma.

Saat gunung berketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut itu meletus, material pijar keluar. Lava tersebut menimbulkan asap tebal setinggi 1.500 meter. "Saya tidak tahu apakah tadi (kemarin, Red) didahului gempa. Sebab, yang saya lihat cuma gunungnya," terang Surono.

Lahar panas disertai debu keluar dari kawah Sinabung sejak Sabtu malam (28/8). Seorang warga melihat api memancar dari dari puncak gunung itu Sabtu lalu sekitar pukul 23.50. "Sekarang terlihat pancaran api, merah sekali ke atas. Sebelumnya tidak pernah. Hanya asap," tutur warga tersebut.

Melihat kejadian itu, papar dia, warga desanya panik. Selain itu, mereka yang telah keluar dari rumah masing-masing bingung harus berbuat apa.

Menurut dia, desanya tergolong agak jauh dari puncak Sinabung. Tapi, warga desa tersebut sudah mengungsi ke Berastagi dan Kabanjahe.

Dari Kota Berastagi, lahar panas itu terlihat jelas. Warga pun berduyun-duyun keluar dari rumah untuk menyaksikan peristiwa alam tersebut. Sebagian warga Berastagi juga mulai mengungsi ke daerah lain.

Sementara itu, dengan membawa perlengkapan seadanya, ratusan warga Desa Sukanalu yang berlokasi di lereng Gunung Sinabung kembali mengungsi. "Yang tinggal di kampung paling hanya lelaki dewasa, menjaga rumah dari pencurian," ucap Sitepu, warga setempat. Sebagian pengungsi mendatangi rumah dinas bupati Karo dan gedung-gedung pertemuan atau jambur di Kabanjahe.

Sedikitnya 500 warga Desa Sigaranggarang, Kuta Rakyat, Bekerah Simacem, Gutagugung, dan Sukanalu masih mengungsi di pendapa rumah bupati Tanah Karo di Jalan Veteran, Berastagi.

Warga mencari perlindungan dengan mengungsi ke pendapa itu sejak Jumat (27/8) pukul 20.00. Untuk memenuhi kebutuhan sahur, sebagian warga yang beragama Islam membuat dapur umum di sekitar pendapa.

Presiden SBY memantau kondisi Gunung Sinabung melalui Staf Khusus Bidang Bencana dan Bantuan Sosial Andi Arief. Menurut Andi, saat ini sudah ada petugas dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemda setempat serta tim ahli dari Jakarta yang mengevakuasi penduduk. "Saya sudah berkoordinasi dengan ketua BNPB. Komando ada di tangan bupati Karo," ungkapnya.

Pada bagian lain, PVMBG menetapkan Sinabung sebagai gunung berapi tipe A. Sinabung kini berstatus awas atau keaktifannya berada di level IV. Status itu ditingkatkan setelah lava panas menyembur saat gunung tersebut meletus kemarin. "Karena bertipe A, kami akan memantau 24 jam," papar Surono. Sebelumnya, letusan dan sifat gunung api Sinabung tidak tercatat sejak 1600.

Dari lokasi pengungsian, dilaporkan sebagian besar warga mulai terserang ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) dan diare. Hingga Minggu siang, gelombang pengungsi masih berdatangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Gunung Sinabung di kawasan Kabupaten Karo, Sumut, kemarin (29/8), tepatnya pukul 00.08, meletus. Letusan terjadi dua kali. Lahar panas juga mulai turun ke kaki gunung.

Wartawan Sumut Pos (Jawa Pos Group) melaporkan, semburan debu dan asap mengakibatkan desa gelap. Jalan dipenuhi debu berbau sulfur alias belerang. Tanaman juga diselimuti debu. Selain itu, jarak pandang hanya 3-5 meter. Aroma belerang dari asap dan debu menyesakkan pernapasan.

Ribuan warga di radius 6 kilometer dari puncak gunung itu berangsur-angsur mengungsi. Sekitar 12.000 warga dari 12 desa di empat kecamatan di lereng gunung dievakuasi ke pendapa rumah dinas bupati Karo di Kabanjahe. Sebagian lagi diungsikan di Jamburta Ras, Berastagi.

"Semua warga di (permukiman, Red) radius 6 kilometer harus diungsikan," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Surono di posko pengawasan Desa Sukanalu, Kecamatan Naman Teran, Karo, kemarin. Posko itu berjarak sekitar 4 kilometer dari lokasi keluarnya magma.

Saat gunung berketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut itu meletus, material pijar keluar. Lava tersebut menimbulkan asap tebal setinggi 1.500 meter. "Saya tidak tahu apakah tadi (kemarin, Red) didahului gempa. Sebab, yang saya lihat cuma gunungnya," terang Surono.

Lahar panas disertai debu keluar dari kawah Sinabung sejak Sabtu malam (28/8). Seorang warga melihat api memancar dari dari puncak gunung itu Sabtu lalu sekitar pukul 23.50. "Sekarang terlihat pancaran api, merah sekali ke atas. Sebelumnya tidak pernah. Hanya asap," tutur warga tersebut.

Melihat kejadian itu, papar dia, warga desanya panik. Selain itu, mereka yang telah keluar dari rumah masing-masing bingung harus berbuat apa.

Menurut dia, desanya tergolong agak jauh dari puncak Sinabung. Tapi, warga desa tersebut sudah mengungsi ke Berastagi dan Kabanjahe.

Dari Kota Berastagi, lahar panas itu terlihat jelas. Warga pun berduyun-duyun keluar dari rumah untuk menyaksikan peristiwa alam tersebut. Sebagian warga Berastagi juga mulai mengungsi ke daerah lain.

Sementara itu, dengan membawa perlengkapan seadanya, ratusan warga Desa Sukanalu yang berlokasi di lereng Gunung Sinabung kembali mengungsi. "Yang tinggal di kampung paling hanya lelaki dewasa, menjaga rumah dari pencurian," ucap Sitepu, warga setempat. Sebagian pengungsi mendatangi rumah dinas bupati Karo dan gedung-gedung pertemuan atau jambur di Kabanjahe.

Sedikitnya 500 warga Desa Sigaranggarang, Kuta Rakyat, Bekerah Simacem, Gutagugung, dan Sukanalu masih mengungsi di pendapa rumah bupati Tanah Karo di Jalan Veteran, Berastagi.

Warga mencari perlindungan dengan mengungsi ke pendapa itu sejak Jumat (27/8) pukul 20.00. Untuk memenuhi kebutuhan sahur, sebagian warga yang beragama Islam membuat dapur umum di sekitar pendapa.

Presiden SBY memantau kondisi Gunung Sinabung melalui Staf Khusus Bidang Bencana dan Bantuan Sosial Andi Arief. Menurut Andi, saat ini sudah ada petugas dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemda setempat serta tim ahli dari Jakarta yang mengevakuasi penduduk. "Saya sudah berkoordinasi dengan ketua BNPB. Komando ada di tangan bupati Karo," ungkapnya.

Pada bagian lain, PVMBG menetapkan Sinabung sebagai gunung berapi tipe A. Sinabung kini berstatus awas atau keaktifannya berada di level IV. Status itu ditingkatkan setelah lava panas menyembur saat gunung tersebut meletus kemarin. "Karena bertipe A, kami akan memantau 24 jam," papar Surono. Sebelumnya, letusan dan sifat gunung api Sinabung tidak tercatat sejak 1600.

Dari lokasi pengungsian, dilaporkan sebagian besar warga mulai terserang ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) dan diare. Hingga Minggu siang, gelombang pengungsi masih berdatangan.

0 komentar

Poskan Komentar

Pengikut

Daftar Label

Follow by Email

Ads 468x60px

Kalendar

Popular Posts

 
© Copyright 2010-2011 Wiro Sableng 810 All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.