Translate 2 ur Languages

Kamis, 19 Agustus 2010

PROFIL-Rusdi Kirana, Pemilik dan Presiden Direktur PT Lion Mentari Airlines

Di bisnis maskapai penerbangan nasional, siapa yang tidak kenal Rusdi Kirana. Lewat bendera Lion Air, dia memelopori penerbangan low cost carrier yang membuat semua orang bisa menikmati transportasi udara dengan biaya murah. Tak banyak yang tahu, ternyata itulah mimpi Rusdi saat masih menjadi calo tiket pesawat puluhan tahun lalu.

SELAMA beberapa dekade, industri penerbangan tidak pernah disentuh oleh pengusaha. Bukan karena tidak punya duit, tetapi mendirikan maskapai adalah bisnis terlarang waktu itu. Hanya maskapai milik pemerintah atau instansi militer yang sanggup bertahan seperti Garuda Indonesia, Merpati Nusantara Airlines, Mandala, dan Sempati. Kalaupun hidup, maskapai-maskapai itu mengalami kesulitan keuangan parah.

Namun, asumsi itu dibalik oleh dua bersaudara, Rusdi Kirana dan kakaknya, Kusnan Kirana. Berbekal pengalaman menjadi agen perjalanan wisata (biro travel) 13 tahun dan modal USD 10 juta (sekitar Rp 90 miliar), keduanya nekat mendirikan maskapai Lion Air. "Kami yakin dengan penangananan profesional, maskapai swasta bisa berkibar," kata Presiden Direktur PT Lion Mentari Airlines Rusdi Kirana menceritakan motivasi awalnya membuka usaha maskapai penerbangan pekan lalu.

Secara hukum, PT Lion Mentari Airlines didirikan pada Oktober 1999. Namun, pengoperasian pesawatnya baru bisa dimulai pada 30 Juni 2000 pascaderegulasi industri penerbangan. Lion Air bukan maskapai swasta pertama yang diberi izin terbang oleh pemerintah. "Beberapa maskapai mengajukan izin terbang dulu, seperti AW Air, Star Air, dan Jatayu Airlines. Tapi, yang beroperasi dulu Lion Air," kata Rusdi bangga.

Beberapa saat setelah terbang pertama, Lion Air langsung menjadi buah bibir industri penerbangan di tanah air karena menawarkan harga tiket murah. Apalagi, sebagai pemain baru, Lion Air berani menggunakan kualitas armada tidak yang tak jauh berbeda dengan maskapai lain, yaitu Boeing 737-200.

Sebagian pengamat, bahkan pelaku bisnis penerbangan, meragukan Lion bisa bertahan lama karena pemiliknya sama sekali belum pernah punya pengalaman. "Tapi, begitu mereka tahu saya bisa bertahan setahun, baru mereka heran," ungkapnya. Dengan mengusung slogan We Makes People Fly, Rusdi berambisi membuat semua orang bisa menikmati transportasi udara.

Munculnya Lion membuat "revolusi" di bisnis penerbangan tanah air. Akibatnya, antarmaskapai terjadi perang tarif, sehingga Rusdi sempat dipanggil DPR pada 2003. Di depan anggota parlemen, dengan penuh percaya diri Rusdi menjelaskan strategi bisnisnya. Menurut dia, tarif mahal membuat pesawat menjadi jasa yang eksklusif di masyarakat. Padahal, tugas negara adalah menjamin ketersediaan transportasi bagi rakyat. "Sebelumnya masyarakat memang dikondisikan bahwa yang menggunakan pesawat hanya orang-orang berduit, atau yang sedang terpaksa naik pesawat," ketusnya.

Hingga kini Rusdi bersama kakaknya, Kusnan -yang saat ini menjadi komisaris utama- tetap bertahan dengan konsep itu. "Saya dulu kan calo (tiket pesawat, Red). Jadi, saya tahu betul masyarakat mencari tiket pesawat yang harganya terjangkau," katanya.

Konsumen memang menyambut antusias terobosan Rusdi. Namun, sambutan sebaliknya muncul dari kolega-kolega di industri penerbangan.

Tudingan miring banyak ditujukan kepada Rusdi, mulai predatory pricing (menjual murah untuk mematikan lawan bisnis) hingga dianggap tidak nasionalis. Namun, menurut Rusdi, tarif yang dijual Lion Air masih berada dalam hitung-hitungan bisnis sehingga perusahaan pasti bangkrut kalau dijual rugi. "Mengenai nasionalisme, bagaimana saya dianggap tidak nasionalis wong lahirnya saja tanggal 17 Agustus," candanya.

Berdasar perhitungan, kata Rusdi, Lion Air bisa meraih BEP (break event point) bila load factor (tingkat isian penumpang) mencapai 75-80 persen. Dengan begitu, dia membantah jika maskapai lain mengaku tidak mungkin menerapkan tarif serendah itu. "Buktinya, setelah Lion Air masuk, hampir semua operator lama ikut menurunkan tarif. Itu berarti selama ini telah terjadi permainan tarif yang luar biasa," katanya.

Karena itu, dia tidak khawatir saat pemerintah mewajibkan audit keuangan bagi setiap maskapai penerbangan. Menurut dia, langkah tersebut memang sebaiknya dilakukan untuk mengetahui mana perusahaan yang benar-benar sehat dan ditangani secara profesional. "Hanya perusahaan sehat, seperti Lion Air, yang bisa memberikan pelayanan terbaik. Perusahaan yang memiliki kinerja keuangan minus pasti bakal kesulitan," ungkapnya.

Menurut dia, pengembangan bisnis Lion Air didapatkan dari kepercayaan para banker internasional seperti dari Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Prancis, Hongkong, dan Tiongkok yang mewakili Bank Exim Bank AS, ANZ Investment Bank, Babcock & Brown, Bank of China, Beaufort Group, dan BNP Paribas. "Mereka yang mendanai Lion Air. Kami berhasil meyakinkan mereka," jelasnya.

Rusdi menambahkan, dengan kredit yang mereka berikan, Lion Air berencana memboyong 178 pesawat Boeing 737-900ER terbaru yang datang secara bertahap hingga 2014. Lion Air terus mengembangkan wilayah operasi penerbangan, baik domestik maupun internasional serta bersinergi dengan Wings Air -anak perusahaanya- melayani penerbangan ke wilayah-wilayah terpencil. "Penambahan pesawat kami butuhkan untuk melakukan ekspansi," jelasnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Di bisnis maskapai penerbangan nasional, siapa yang tidak kenal Rusdi Kirana. Lewat bendera Lion Air, dia memelopori penerbangan low cost carrier yang membuat semua orang bisa menikmati transportasi udara dengan biaya murah. Tak banyak yang tahu, ternyata itulah mimpi Rusdi saat masih menjadi calo tiket pesawat puluhan tahun lalu.

SELAMA beberapa dekade, industri penerbangan tidak pernah disentuh oleh pengusaha. Bukan karena tidak punya duit, tetapi mendirikan maskapai adalah bisnis terlarang waktu itu. Hanya maskapai milik pemerintah atau instansi militer yang sanggup bertahan seperti Garuda Indonesia, Merpati Nusantara Airlines, Mandala, dan Sempati. Kalaupun hidup, maskapai-maskapai itu mengalami kesulitan keuangan parah.

Namun, asumsi itu dibalik oleh dua bersaudara, Rusdi Kirana dan kakaknya, Kusnan Kirana. Berbekal pengalaman menjadi agen perjalanan wisata (biro travel) 13 tahun dan modal USD 10 juta (sekitar Rp 90 miliar), keduanya nekat mendirikan maskapai Lion Air. "Kami yakin dengan penangananan profesional, maskapai swasta bisa berkibar," kata Presiden Direktur PT Lion Mentari Airlines Rusdi Kirana menceritakan motivasi awalnya membuka usaha maskapai penerbangan pekan lalu.

Secara hukum, PT Lion Mentari Airlines didirikan pada Oktober 1999. Namun, pengoperasian pesawatnya baru bisa dimulai pada 30 Juni 2000 pascaderegulasi industri penerbangan. Lion Air bukan maskapai swasta pertama yang diberi izin terbang oleh pemerintah. "Beberapa maskapai mengajukan izin terbang dulu, seperti AW Air, Star Air, dan Jatayu Airlines. Tapi, yang beroperasi dulu Lion Air," kata Rusdi bangga.

Beberapa saat setelah terbang pertama, Lion Air langsung menjadi buah bibir industri penerbangan di tanah air karena menawarkan harga tiket murah. Apalagi, sebagai pemain baru, Lion Air berani menggunakan kualitas armada tidak yang tak jauh berbeda dengan maskapai lain, yaitu Boeing 737-200.

Sebagian pengamat, bahkan pelaku bisnis penerbangan, meragukan Lion bisa bertahan lama karena pemiliknya sama sekali belum pernah punya pengalaman. "Tapi, begitu mereka tahu saya bisa bertahan setahun, baru mereka heran," ungkapnya. Dengan mengusung slogan We Makes People Fly, Rusdi berambisi membuat semua orang bisa menikmati transportasi udara.

Munculnya Lion membuat "revolusi" di bisnis penerbangan tanah air. Akibatnya, antarmaskapai terjadi perang tarif, sehingga Rusdi sempat dipanggil DPR pada 2003. Di depan anggota parlemen, dengan penuh percaya diri Rusdi menjelaskan strategi bisnisnya. Menurut dia, tarif mahal membuat pesawat menjadi jasa yang eksklusif di masyarakat. Padahal, tugas negara adalah menjamin ketersediaan transportasi bagi rakyat. "Sebelumnya masyarakat memang dikondisikan bahwa yang menggunakan pesawat hanya orang-orang berduit, atau yang sedang terpaksa naik pesawat," ketusnya.

Hingga kini Rusdi bersama kakaknya, Kusnan -yang saat ini menjadi komisaris utama- tetap bertahan dengan konsep itu. "Saya dulu kan calo (tiket pesawat, Red). Jadi, saya tahu betul masyarakat mencari tiket pesawat yang harganya terjangkau," katanya.

Konsumen memang menyambut antusias terobosan Rusdi. Namun, sambutan sebaliknya muncul dari kolega-kolega di industri penerbangan.

Tudingan miring banyak ditujukan kepada Rusdi, mulai predatory pricing (menjual murah untuk mematikan lawan bisnis) hingga dianggap tidak nasionalis. Namun, menurut Rusdi, tarif yang dijual Lion Air masih berada dalam hitung-hitungan bisnis sehingga perusahaan pasti bangkrut kalau dijual rugi. "Mengenai nasionalisme, bagaimana saya dianggap tidak nasionalis wong lahirnya saja tanggal 17 Agustus," candanya.

Berdasar perhitungan, kata Rusdi, Lion Air bisa meraih BEP (break event point) bila load factor (tingkat isian penumpang) mencapai 75-80 persen. Dengan begitu, dia membantah jika maskapai lain mengaku tidak mungkin menerapkan tarif serendah itu. "Buktinya, setelah Lion Air masuk, hampir semua operator lama ikut menurunkan tarif. Itu berarti selama ini telah terjadi permainan tarif yang luar biasa," katanya.

Karena itu, dia tidak khawatir saat pemerintah mewajibkan audit keuangan bagi setiap maskapai penerbangan. Menurut dia, langkah tersebut memang sebaiknya dilakukan untuk mengetahui mana perusahaan yang benar-benar sehat dan ditangani secara profesional. "Hanya perusahaan sehat, seperti Lion Air, yang bisa memberikan pelayanan terbaik. Perusahaan yang memiliki kinerja keuangan minus pasti bakal kesulitan," ungkapnya.

Menurut dia, pengembangan bisnis Lion Air didapatkan dari kepercayaan para banker internasional seperti dari Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Prancis, Hongkong, dan Tiongkok yang mewakili Bank Exim Bank AS, ANZ Investment Bank, Babcock & Brown, Bank of China, Beaufort Group, dan BNP Paribas. "Mereka yang mendanai Lion Air. Kami berhasil meyakinkan mereka," jelasnya.

Rusdi menambahkan, dengan kredit yang mereka berikan, Lion Air berencana memboyong 178 pesawat Boeing 737-900ER terbaru yang datang secara bertahap hingga 2014. Lion Air terus mengembangkan wilayah operasi penerbangan, baik domestik maupun internasional serta bersinergi dengan Wings Air -anak perusahaanya- melayani penerbangan ke wilayah-wilayah terpencil. "Penambahan pesawat kami butuhkan untuk melakukan ekspansi," jelasnya

0 komentar

Poskan Komentar

Pengikut

Daftar Label

Follow by Email

Ads 468x60px

Kalendar

Popular Posts

 
© Copyright 2010-2011 Wiro Sableng 810 All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.