Translate 2 ur Languages

Kamis, 02 Desember 2010

KAB.TUBAN-DPRD Dukung Pembangunan Pagoda Tengah Laut


Pembangunan Pagoda setinggi 71 meter di tengah laut Tuban depan Klenteng Kwan Sing Biao Tuban disambut baik oleh DPRD Tuban dengan catatan mengikuti ketentuan yang telah diatur oleh Badan Perencanaan Daerah Kabupaten (Bapekab) Tuban.
Pembangunan Pagoda berdiameter dasar 30 meter dan puncak 20 meter yang menelan dana setidaknya Rp 16 miliar ini, tahun ini diharapkan sudah selesai perencanaannya.
Ketua Komisi B DPRD Tuban, Warsito, mengatakan kalau proyek ini bisa direalisasi, maka Tuban akan mempunyai kebanggaan tersendiri karena di kota santri ini ada Pagoda tempat untuk beribadah 3 agama masing-masing Khong Hu Cu, Tao dan Budha.
“Pluralisme yang satu ini harus kita jaga karena ini bisa menunjukkan betapa kita bisa hidup berdampingan dengan agama yang berbeda-beda,” ujar politisi Golkar senior ini.
Hanya saja, Warsito mengingatkan agar pembangunan Pagoda di atas tanah 6 hektar tadi jangan hanya menjadi tempat sembahyang, tetapi bisa dimanfaatkan untuk tempat wisata laut yang lengkap.
Ketika diadakan hearing (dengar pendapat) dengan dewan, panitia pembangunan juga sudah menyatakan niatnya dan menyanggupi syarat-syarat yang diajukan dewan dan pemkab Tuban. Termasuk membuat jembatan menuju Pagoda serta membangun fasilitas wisata.
“Nantinya memang dibutuhkan Perda khusus untuk reklamasi laut dan jembatan penghubungnya memang harus melalui studi yang detil dan kontraktor yang berpengalaman. Kita berharap kontraktor Tuban bisa mengambil alih proyek ini,” kata Warsito.
Biasanya HK yang bisa menggarap karena pengalaman mengerjakan jembatan Suramadu sementara kontraktor lokal harus mendapat sub-sub pekerjaan itu.
Seperti yang pernah diberitakan, Ketua umum TITD Kwan Sing Bio, Gunawan Putra Wirawan mengatakan pihaknya akan melengkapi persyaratan tadi dan sedang mendesain proyek fisiknya serta menyiapkan studi analisa dampak lingkungan.
Ini penting mengingat dibangun di laut Tuban, dan nantinya juga berfungsi sebagai mercusuar, tempat ibadah, wisata air, serta lainnya yang tentu bisa meningkatan pendapatan asli daerah serta devisa dari turis asing.
“Dari luas tanah 6 hektar, yang 2,5 hektar kami serahkan kepada Pemkab Tuban yang selanjutnya akan dibangun sarana wisata laut atau lainnya,” lanjut Gunawan yang juga ketua tim pelaksana pembangunan Pagoda Tuban.
Izin-izin yang harus diurus adalah rekomendasi dari Bapekab Tuban yang terdiri dari izin-izin Dinas Lingkungan Hidup, Dinas perekonomian dan pariwisata, Dinas Pekerjaan Umum dan yang juga penting adalah persetujuan dewan karena nantinya dibutuhkan peraturan daerah (Perda) khusus.
Klenteng Kwan Sing Bio mendapatkan inspirasi membangun Pagoda setelah melihat Pagoda di pulau Kemarau Riau, di Jawa Tengah, di pulau Sentosa Singapura dan tentu saja di Tiongkok maupun Thailand. Mereka membangun Pagoda begitu megahnya dan menjadi sarana ibadah yang cukup diminati umat.
Ditanya dari mana dananya, Gunawan menunjuk di Indonesia ada 12.500 umat dan simpatisan, sedang di Tuban saja ada 615 orang yang terdaftar sebagai anggota dan memiliki kartu tanda anggota (KTA).
Mereka inilah yang akan jadi donatur untuk membangun proyek mercusuar yang bisa membanggakan Tuban maupun Indonesia. Bahkan sebelum izin membangun keluar, para simpatisan sudah menanyakan bagaimana kelanjutan rencana pembangunan Pagoda Tuban.
Donatur no name (dirahasiakan namanya) cukup banyak bahkan penyumbang dari Taiwan, RRC maupun Hong Kong sudah menyatakan ingin menyumbang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Pembangunan Pagoda setinggi 71 meter di tengah laut Tuban depan Klenteng Kwan Sing Biao Tuban disambut baik oleh DPRD Tuban dengan catatan mengikuti ketentuan yang telah diatur oleh Badan Perencanaan Daerah Kabupaten (Bapekab) Tuban.
Pembangunan Pagoda berdiameter dasar 30 meter dan puncak 20 meter yang menelan dana setidaknya Rp 16 miliar ini, tahun ini diharapkan sudah selesai perencanaannya.
Ketua Komisi B DPRD Tuban, Warsito, mengatakan kalau proyek ini bisa direalisasi, maka Tuban akan mempunyai kebanggaan tersendiri karena di kota santri ini ada Pagoda tempat untuk beribadah 3 agama masing-masing Khong Hu Cu, Tao dan Budha.
“Pluralisme yang satu ini harus kita jaga karena ini bisa menunjukkan betapa kita bisa hidup berdampingan dengan agama yang berbeda-beda,” ujar politisi Golkar senior ini.
Hanya saja, Warsito mengingatkan agar pembangunan Pagoda di atas tanah 6 hektar tadi jangan hanya menjadi tempat sembahyang, tetapi bisa dimanfaatkan untuk tempat wisata laut yang lengkap.
Ketika diadakan hearing (dengar pendapat) dengan dewan, panitia pembangunan juga sudah menyatakan niatnya dan menyanggupi syarat-syarat yang diajukan dewan dan pemkab Tuban. Termasuk membuat jembatan menuju Pagoda serta membangun fasilitas wisata.
“Nantinya memang dibutuhkan Perda khusus untuk reklamasi laut dan jembatan penghubungnya memang harus melalui studi yang detil dan kontraktor yang berpengalaman. Kita berharap kontraktor Tuban bisa mengambil alih proyek ini,” kata Warsito.
Biasanya HK yang bisa menggarap karena pengalaman mengerjakan jembatan Suramadu sementara kontraktor lokal harus mendapat sub-sub pekerjaan itu.
Seperti yang pernah diberitakan, Ketua umum TITD Kwan Sing Bio, Gunawan Putra Wirawan mengatakan pihaknya akan melengkapi persyaratan tadi dan sedang mendesain proyek fisiknya serta menyiapkan studi analisa dampak lingkungan.
Ini penting mengingat dibangun di laut Tuban, dan nantinya juga berfungsi sebagai mercusuar, tempat ibadah, wisata air, serta lainnya yang tentu bisa meningkatan pendapatan asli daerah serta devisa dari turis asing.
“Dari luas tanah 6 hektar, yang 2,5 hektar kami serahkan kepada Pemkab Tuban yang selanjutnya akan dibangun sarana wisata laut atau lainnya,” lanjut Gunawan yang juga ketua tim pelaksana pembangunan Pagoda Tuban.
Izin-izin yang harus diurus adalah rekomendasi dari Bapekab Tuban yang terdiri dari izin-izin Dinas Lingkungan Hidup, Dinas perekonomian dan pariwisata, Dinas Pekerjaan Umum dan yang juga penting adalah persetujuan dewan karena nantinya dibutuhkan peraturan daerah (Perda) khusus.
Klenteng Kwan Sing Bio mendapatkan inspirasi membangun Pagoda setelah melihat Pagoda di pulau Kemarau Riau, di Jawa Tengah, di pulau Sentosa Singapura dan tentu saja di Tiongkok maupun Thailand. Mereka membangun Pagoda begitu megahnya dan menjadi sarana ibadah yang cukup diminati umat.
Ditanya dari mana dananya, Gunawan menunjuk di Indonesia ada 12.500 umat dan simpatisan, sedang di Tuban saja ada 615 orang yang terdaftar sebagai anggota dan memiliki kartu tanda anggota (KTA).
Mereka inilah yang akan jadi donatur untuk membangun proyek mercusuar yang bisa membanggakan Tuban maupun Indonesia. Bahkan sebelum izin membangun keluar, para simpatisan sudah menanyakan bagaimana kelanjutan rencana pembangunan Pagoda Tuban.
Donatur no name (dirahasiakan namanya) cukup banyak bahkan penyumbang dari Taiwan, RRC maupun Hong Kong sudah menyatakan ingin menyumbang

0 komentar

Poskan Komentar

Pengikut

Daftar Label

Follow by Email

Ads 468x60px

Kalendar

Popular Posts

 
© Copyright 2010-2011 Wiro Sableng 810 All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.