Translate 2 ur Languages

Minggu, 03 Juli 2011

KAB.JEMBER-Petani Jember Tahan Gula Lelang

Petani pabrik gula PT Perkebunan Nusatara 11 di Semboro menahan gula yang sudah digiling agar tak dilepas di pasar lelang. Ini dikarenakan belum ada kesepakatan harga yang memuaskan.

Pada lelang terakhir, 28 Juni 2011 lalu, ada 10.820 ton gula milik petani tebu rakyat yang dilelalng. Sebanyak 1.330 ton di antaranya adalah milik petani Jember. Petani Jember memberikan harga penawaran sementara (HPS) Rp 9.000 per kilogram. Sementara dari investor hanya mau membeli dengan harga Rp 8.000,6 hingga Rp 8.000,8 per kilogram.

"Kami tentu saja tak mau melepas. Gula petani tetap akan disimpan di gudang," kata Ketua Paguyuban Petani Tebu Rakyat Jember, Moch. Ali Fikri, Sabtu (2/7/2011).

Fikri mengatakan, harga yang disodorkan investor masih terlalu jauh dari HPS petani. Apalagi kualitas gula produksi petani saat ini masuk kelas premium, sehingga harus dihargai layak. "Ini terbaik dalam sejarah pabrik gula Semboro. Gula premium kalau disimpan tahan lama, bisa sampai satu tahun," tegasnya.

Petani tidak mau kecewa dua kali. Dalam lelang pertama 13 Juni lalu, gula petani yang premium justru dihargai rendah. Dalam lelang gula petani tebu rakyat di wilayah barat, investor membeli dengan harga Rp 7.660 per kilogram. Sementara di wilayah timur, gula dilepas ke investor dengan harga Rp 7.625. Sementara produksi gula pabrik Semboro dilepas dengan harga Rp 7.630 per kilogram. "Hanya selisih lima rupiah dengan produksi penggilingan pabrik lain yang kualitasnya di bawah," kata Fikri.

Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat Jember, Marzuki Abdul Ghafur, membenarkan adanya kekecewaan petani. "Kalau perbedaannya hanya sekian, sangat tidak adil. Saya berharap karena gula petani semboro gula premium, harganya harus lebih baik," jelasnya.

Marzuki mengatakan, dengan rendemen enam persen saat ini, pendapatan petani terbilang minim, jika gula tidak dilelang dengan harga di atas Rp 8.500 per kilogram. "Kalau rendemen tebu di pabrik minimal tujuh persen dengan harga gula lelang Rp 7.630 per kilogram, barulah bisa mendapat keuntungan layak," katanya.

Sementara itu, bagi hasil penggilingan tebu jika rendemen antara 6 sampai di bawah 7 persen, petani mendapat 70 persen dari gula yang diproduksi. Kalau rendemen jeblok di bawah enam persen, maka bagi hasil gula produksi yang diterima petani 66 persen.

"Break event point petani adalah Rp 7.500 per kilogram. Produksi kuintal tebu saat ini menurun, tapi kualitas gula adalah premium," tambah Fikri.

Fikri mengingatkan, investasi pemerintah untuk revitalisasi pabrik gula mencapai Rp 176 miliar. Jika gula dengan kualitas bagus hasil pabrik yang direvitalisasi itu dijual dengan harga yang sama dengan produksi sebelum revitalisasi, tentu saja ini merugikan. Rp 60 miliar investasi itu di antaranya untuk penciptaan sistim karbonatasi dalam proses produksi.

Sampai kapan gula akan ditahan untuk tak dilelang? "Biasanya sih ditahan sampai dua bulan," kata Fikri. Jika sudah demikian, tentu investor yang merugi, karena mereka harus menanggung beban bunga dana talangan yang berasal dari pinjaman bank.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Petani pabrik gula PT Perkebunan Nusatara 11 di Semboro menahan gula yang sudah digiling agar tak dilepas di pasar lelang. Ini dikarenakan belum ada kesepakatan harga yang memuaskan.

Pada lelang terakhir, 28 Juni 2011 lalu, ada 10.820 ton gula milik petani tebu rakyat yang dilelalng. Sebanyak 1.330 ton di antaranya adalah milik petani Jember. Petani Jember memberikan harga penawaran sementara (HPS) Rp 9.000 per kilogram. Sementara dari investor hanya mau membeli dengan harga Rp 8.000,6 hingga Rp 8.000,8 per kilogram.

"Kami tentu saja tak mau melepas. Gula petani tetap akan disimpan di gudang," kata Ketua Paguyuban Petani Tebu Rakyat Jember, Moch. Ali Fikri, Sabtu (2/7/2011).

Fikri mengatakan, harga yang disodorkan investor masih terlalu jauh dari HPS petani. Apalagi kualitas gula produksi petani saat ini masuk kelas premium, sehingga harus dihargai layak. "Ini terbaik dalam sejarah pabrik gula Semboro. Gula premium kalau disimpan tahan lama, bisa sampai satu tahun," tegasnya.

Petani tidak mau kecewa dua kali. Dalam lelang pertama 13 Juni lalu, gula petani yang premium justru dihargai rendah. Dalam lelang gula petani tebu rakyat di wilayah barat, investor membeli dengan harga Rp 7.660 per kilogram. Sementara di wilayah timur, gula dilepas ke investor dengan harga Rp 7.625. Sementara produksi gula pabrik Semboro dilepas dengan harga Rp 7.630 per kilogram. "Hanya selisih lima rupiah dengan produksi penggilingan pabrik lain yang kualitasnya di bawah," kata Fikri.

Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat Jember, Marzuki Abdul Ghafur, membenarkan adanya kekecewaan petani. "Kalau perbedaannya hanya sekian, sangat tidak adil. Saya berharap karena gula petani semboro gula premium, harganya harus lebih baik," jelasnya.

Marzuki mengatakan, dengan rendemen enam persen saat ini, pendapatan petani terbilang minim, jika gula tidak dilelang dengan harga di atas Rp 8.500 per kilogram. "Kalau rendemen tebu di pabrik minimal tujuh persen dengan harga gula lelang Rp 7.630 per kilogram, barulah bisa mendapat keuntungan layak," katanya.

Sementara itu, bagi hasil penggilingan tebu jika rendemen antara 6 sampai di bawah 7 persen, petani mendapat 70 persen dari gula yang diproduksi. Kalau rendemen jeblok di bawah enam persen, maka bagi hasil gula produksi yang diterima petani 66 persen.

"Break event point petani adalah Rp 7.500 per kilogram. Produksi kuintal tebu saat ini menurun, tapi kualitas gula adalah premium," tambah Fikri.

Fikri mengingatkan, investasi pemerintah untuk revitalisasi pabrik gula mencapai Rp 176 miliar. Jika gula dengan kualitas bagus hasil pabrik yang direvitalisasi itu dijual dengan harga yang sama dengan produksi sebelum revitalisasi, tentu saja ini merugikan. Rp 60 miliar investasi itu di antaranya untuk penciptaan sistim karbonatasi dalam proses produksi.

Sampai kapan gula akan ditahan untuk tak dilelang? "Biasanya sih ditahan sampai dua bulan," kata Fikri. Jika sudah demikian, tentu investor yang merugi, karena mereka harus menanggung beban bunga dana talangan yang berasal dari pinjaman bank.

0 komentar

Poskan Komentar

Pengikut

Daftar Label

Follow by Email

Ads 468x60px

Kalendar

Popular Posts

 
© Copyright 2010-2011 Wiro Sableng 810 All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.