Translate 2 ur Languages

Minggu, 03 Juli 2011

KAB.MALANG-Inilah Kehidupan Purel Kanjuruhan


Bagaimanakah kehidupan purel di tempat Kios Dugem Ala Stadion Kanjuruhan? Ternyata, purel-purel di sekitar Stadion Kanjuruhan memang tergolong muda usia. Seksi. Kebanyakan mereka tinggal tak jauh dari lokasi Stadion. Terbanyak para purel menetap denga cara indekos.

Mencari keberadaan mereka, cukup datang ke stadion pada malam hari. Pasalnya, para purel itu akan bersembunyi dalam kamar-kamar indekosnya. Laiknya burung malam yang mencari makan, rombongan purel berbaju seksi bercelana pendek itu, akan muncul dan berduyun-duyun saat matahari sudah terpuruk di peraduannya.

"Dua tahun kami berteman dengan para purel itu. Kebetulan, saya indekos dengan purel yang bekerja di kios dugem stadion kanjuruhan. Karena satu kamar, kami tahu betul aktivitas mereka," kata Rihana (bukan nama sebenarnya), warga Pagak, Kabupaten Malang, Minggu (3/7/2011).

Rihana adalah janda tanpa anak. Usianya, baru menginjak 24 tahun. Rihana indekos bersama tujuh purel yang bekerja di kios-kios dugem Stadion Kanjuruhan. Rihana sendiri, bekerja di rumah makan dikawasan Kepanjen. Menurut Rihana, jika siang hari, rekan satu indekosnya yang rata-rata purel, dipastikan lelap tidur.

Mereka akan keluar mencari rupiah jika malam sudah di atas pukul tujuh. Setiap malamnya, teman-teman Rihana itu cukup banyak membawa uang. Minimal, satu teman purelnya, bisa membawa uang dari tamunnya Rp.100.000- Rp.250.000.

"Kalau penghasilan mereka sih banyak. Setiap menemani tamu dicafe, pasti dapat fee. Besarnya tergantung tamu," terang Rihana.

Dikatan Rihana, teman satu kamarnya bisa dibooking. Asal harganya cocok, mereka siap melakukan apapun permintaan tamunya. Kalau lagi malas melayani lelaki hidung belang, para teman indekosnya itu, terkadang cukup bekerja di cafe-cafe dan kios dugem yang ada di sekitar Stadion Kanjuruhan.

"Saya pernah ditawari teman-teman untuk kerja di cafe. Pernah ikut tapi hanya beberapa hari saja. Saya tidak betah karena asap rokok. Saya punya penyakit asma kambuhan," katanya.

Rihana menuturkan, sebagai pekerja dirumah makan, ia kerap keki jika mendengar celotehan dan bujukan teman-teman indekosnya agar mau bergabung dengan dirinya. Yang sempat membuat mata batinnya tercengang, pernah suatu waktu, beberapa purel menegurnya saat dirinya sedang sholat.

"Kamu itu minta apa sih, setiap selesai sholat dan berdoa kok selalu menangis. Kalau kamu mau uang banyak, ikutlah dengan kami. Jangan menangis terus," kenang Rihana saat mendengar celotehan teman indekosnya yang purel.

Kini, kios-kios dugem itu masih bertahan. Sebagian kios ataupun cafe-cafe dugem sudah punya pelanggan tetap. Namun, jangan sekali-sekali bikin keributan atau colak-colek di kios dugem. Akibatnya fatal. Keamanan kios dugem Stadion Kanjuruhan sangat tegas. Mereka, tidak segan menghajar tamu-tamu nakal yang mempermainkan para purelnya. So, inilah wajah lain Stadion Kanjuruhan. Kios dugem, berjejer dengan puluhan pedagang makanan minuman, furniture hingga merchandaise tim sepakbola Arema.

Luas kios pun tak seberapa. Rata-rata, luas kios kecil berukuran 5x8 meter. Sewa kios pertahunnya tergantung luas daripada kios ditempat itu. Ada yang sewa Rp.3 juta pertahun, Rp.6 juta sampai lebih dari itu. Untuk kios dugem, pemilik modal biasanya menyewa beberapa kios sekaligus. Mereka, akan menggabungkan bangunan kios jadi satu. Dan Diatas tribun penonton itulah, lampu-lampu khas dugem akan terpancar sampai waktu benar-benar pagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Bagaimanakah kehidupan purel di tempat Kios Dugem Ala Stadion Kanjuruhan? Ternyata, purel-purel di sekitar Stadion Kanjuruhan memang tergolong muda usia. Seksi. Kebanyakan mereka tinggal tak jauh dari lokasi Stadion. Terbanyak para purel menetap denga cara indekos.

Mencari keberadaan mereka, cukup datang ke stadion pada malam hari. Pasalnya, para purel itu akan bersembunyi dalam kamar-kamar indekosnya. Laiknya burung malam yang mencari makan, rombongan purel berbaju seksi bercelana pendek itu, akan muncul dan berduyun-duyun saat matahari sudah terpuruk di peraduannya.

"Dua tahun kami berteman dengan para purel itu. Kebetulan, saya indekos dengan purel yang bekerja di kios dugem stadion kanjuruhan. Karena satu kamar, kami tahu betul aktivitas mereka," kata Rihana (bukan nama sebenarnya), warga Pagak, Kabupaten Malang, Minggu (3/7/2011).

Rihana adalah janda tanpa anak. Usianya, baru menginjak 24 tahun. Rihana indekos bersama tujuh purel yang bekerja di kios-kios dugem Stadion Kanjuruhan. Rihana sendiri, bekerja di rumah makan dikawasan Kepanjen. Menurut Rihana, jika siang hari, rekan satu indekosnya yang rata-rata purel, dipastikan lelap tidur.

Mereka akan keluar mencari rupiah jika malam sudah di atas pukul tujuh. Setiap malamnya, teman-teman Rihana itu cukup banyak membawa uang. Minimal, satu teman purelnya, bisa membawa uang dari tamunnya Rp.100.000- Rp.250.000.

"Kalau penghasilan mereka sih banyak. Setiap menemani tamu dicafe, pasti dapat fee. Besarnya tergantung tamu," terang Rihana.

Dikatan Rihana, teman satu kamarnya bisa dibooking. Asal harganya cocok, mereka siap melakukan apapun permintaan tamunya. Kalau lagi malas melayani lelaki hidung belang, para teman indekosnya itu, terkadang cukup bekerja di cafe-cafe dan kios dugem yang ada di sekitar Stadion Kanjuruhan.

"Saya pernah ditawari teman-teman untuk kerja di cafe. Pernah ikut tapi hanya beberapa hari saja. Saya tidak betah karena asap rokok. Saya punya penyakit asma kambuhan," katanya.

Rihana menuturkan, sebagai pekerja dirumah makan, ia kerap keki jika mendengar celotehan dan bujukan teman-teman indekosnya agar mau bergabung dengan dirinya. Yang sempat membuat mata batinnya tercengang, pernah suatu waktu, beberapa purel menegurnya saat dirinya sedang sholat.

"Kamu itu minta apa sih, setiap selesai sholat dan berdoa kok selalu menangis. Kalau kamu mau uang banyak, ikutlah dengan kami. Jangan menangis terus," kenang Rihana saat mendengar celotehan teman indekosnya yang purel.

Kini, kios-kios dugem itu masih bertahan. Sebagian kios ataupun cafe-cafe dugem sudah punya pelanggan tetap. Namun, jangan sekali-sekali bikin keributan atau colak-colek di kios dugem. Akibatnya fatal. Keamanan kios dugem Stadion Kanjuruhan sangat tegas. Mereka, tidak segan menghajar tamu-tamu nakal yang mempermainkan para purelnya. So, inilah wajah lain Stadion Kanjuruhan. Kios dugem, berjejer dengan puluhan pedagang makanan minuman, furniture hingga merchandaise tim sepakbola Arema.

Luas kios pun tak seberapa. Rata-rata, luas kios kecil berukuran 5x8 meter. Sewa kios pertahunnya tergantung luas daripada kios ditempat itu. Ada yang sewa Rp.3 juta pertahun, Rp.6 juta sampai lebih dari itu. Untuk kios dugem, pemilik modal biasanya menyewa beberapa kios sekaligus. Mereka, akan menggabungkan bangunan kios jadi satu. Dan Diatas tribun penonton itulah, lampu-lampu khas dugem akan terpancar sampai waktu benar-benar pagi.

0 komentar

Poskan Komentar

Pengikut

Daftar Label

Follow by Email

Ads 468x60px

Kalendar

Popular Posts

 
© Copyright 2010-2011 Wiro Sableng 810 All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.