Translate 2 ur Languages

Selasa, 05 Juli 2011

KOTA SURABAYA-Asosiasi Minta Kembali ke Aspal Lama


Pengerjaan 700 KM jalan provinsi dan nasional di Jawa Timur terancam molor. Saat ini sebanyak 99 persen kontraktor menghentikan pengerjaan pengaspalan jalan yang mereka kerjakan. Penghentian dilakukan akibat permasalahan aspal modifikasi yang terus menjadi polemik berkepanjangan. Padahal beberapa proyek harus dituntaskan sebelum lebaran dengan harapan arus mudik bisa lancar dan tak dipersulit dengan adanya penyerjaan perbaikan jalan.

"Kami tak mau menggunakan jenis Buton Natural Aspal (BNA) yang merupakan modifikasi Aspal Buton dan bahan aditif lainnya dari Pertamina yang dikeluarkan PT Aston Adhi Jaya. Alasannya, penggunaannya begitu sukar dan butuh proses yang panjang. Selain belum terukur kualitasnya, kami juga harus melakukan pengujian kadar aspalnya sebelum digunakan dan itu memakan waktu yang cukup lama dan biaya pengujian laboratorium. Sedangkan aspal jenis Penetrasi 60-70, yang biasa digunakan, langsung bisa digunakan saat aspal itu dikirim dari pabriknya," ujar Achmad Saleh, Ketua Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI) DPD Jatim, saat ditemui di kantornya, Senin (4/7/2011).

Tak hanya masalah kesukaran dan jaminan kualitas saja, masalah mahalnya harga aspal BNA yang ditawarkan PT Aston Adhi Jaya pun membuat para kontraktor geram. Bagaimana tidak, harga aspal yang menjadi patokan para kontraktor jalan adalah harga dari Pertamina sebesar Rp 6.700 per Kg-nya. Sedangkan PT Aston Adhi Jaya memasang harga Rp 6.900 per Kg. Jika dihitung-hitung selisih biaya yang dikeluarkan kontraktor pertonnya adalah Rp 2-3 juta.

"Kami juga ingin proyek yang dipercayakan kepada kami cepat selesai tetapi jika dipersulit seperti ini kami hanya bisa diam dan semua pengerjaan proyek pun terhenti. Kami baru melakukan perataan jalan saja seperti digambar ini, sedangkan untuk pengaspalan belum bisa kami lakukan karena aspal yang direkomendasikan menyulitkan pengerjaan dilapangan," beber Achmad, sambil menunjukkan foto pengerjaan jalan yang ada dalam gadgetnya.

Ketika ditanya apakah penentuan jenis aspal BNA ini berbau kolusi dari lembaga penentu kebijakan, Achmad, mengaku tidak peduli dengan semua isu yang ada. Asalkan semua spesifikasi yang ditentukan pusat dalam hal ini Kementrian Pekerjaan Umum (PU) jelas, maka permasalahan ini tak terjadi. Dan kalaupun memang harus menggunakan BNA, Achmad mengaku 30 anggotanya akan siap, jika pemerintah sudah melakukan sosialisasi terlebih dahulu.

"Namun kenyataannya kebijakan ini baru diputuskan setelah kami menandatangani kontrak proyek. Melalui rapat anggota AABI tadi kami akan berkirim surat kepada Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi (LPJK) Jatim agar tahun ini tetap menggunakan aspal Pen 60-70 dulu, hingga ujicoba dari BNA sukses," jelasnya.

Ditambahkan, pengurus AABI DPD Jatim berharap, Kementrian PU sudah memberikan jawaban hingga 10 Juli mendatang, sebab jika tak ditanggapi dan usulan untuk menggunakan Pen 60-70 tak disetujui maka pengerjaan pengaspalan di berbagai ruas jalan provinsi dan nasional tak akan selesai.

"Kami tak ingin masalah ini mengirim berlarut-larut, sebab walaupun ada pertemuan bulan lalu antara kementrian PU, Balai Besar Pelaksana Jalan nasional V serta Bina Marga ternyata tak membuahkan hasil apa-apa. Kami para pekerja dilapangan masih terombang-ambing karena masalah ini," tandasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Pengerjaan 700 KM jalan provinsi dan nasional di Jawa Timur terancam molor. Saat ini sebanyak 99 persen kontraktor menghentikan pengerjaan pengaspalan jalan yang mereka kerjakan. Penghentian dilakukan akibat permasalahan aspal modifikasi yang terus menjadi polemik berkepanjangan. Padahal beberapa proyek harus dituntaskan sebelum lebaran dengan harapan arus mudik bisa lancar dan tak dipersulit dengan adanya penyerjaan perbaikan jalan.

"Kami tak mau menggunakan jenis Buton Natural Aspal (BNA) yang merupakan modifikasi Aspal Buton dan bahan aditif lainnya dari Pertamina yang dikeluarkan PT Aston Adhi Jaya. Alasannya, penggunaannya begitu sukar dan butuh proses yang panjang. Selain belum terukur kualitasnya, kami juga harus melakukan pengujian kadar aspalnya sebelum digunakan dan itu memakan waktu yang cukup lama dan biaya pengujian laboratorium. Sedangkan aspal jenis Penetrasi 60-70, yang biasa digunakan, langsung bisa digunakan saat aspal itu dikirim dari pabriknya," ujar Achmad Saleh, Ketua Asosiasi Aspal Beton Indonesia (AABI) DPD Jatim, saat ditemui di kantornya, Senin (4/7/2011).

Tak hanya masalah kesukaran dan jaminan kualitas saja, masalah mahalnya harga aspal BNA yang ditawarkan PT Aston Adhi Jaya pun membuat para kontraktor geram. Bagaimana tidak, harga aspal yang menjadi patokan para kontraktor jalan adalah harga dari Pertamina sebesar Rp 6.700 per Kg-nya. Sedangkan PT Aston Adhi Jaya memasang harga Rp 6.900 per Kg. Jika dihitung-hitung selisih biaya yang dikeluarkan kontraktor pertonnya adalah Rp 2-3 juta.

"Kami juga ingin proyek yang dipercayakan kepada kami cepat selesai tetapi jika dipersulit seperti ini kami hanya bisa diam dan semua pengerjaan proyek pun terhenti. Kami baru melakukan perataan jalan saja seperti digambar ini, sedangkan untuk pengaspalan belum bisa kami lakukan karena aspal yang direkomendasikan menyulitkan pengerjaan dilapangan," beber Achmad, sambil menunjukkan foto pengerjaan jalan yang ada dalam gadgetnya.

Ketika ditanya apakah penentuan jenis aspal BNA ini berbau kolusi dari lembaga penentu kebijakan, Achmad, mengaku tidak peduli dengan semua isu yang ada. Asalkan semua spesifikasi yang ditentukan pusat dalam hal ini Kementrian Pekerjaan Umum (PU) jelas, maka permasalahan ini tak terjadi. Dan kalaupun memang harus menggunakan BNA, Achmad mengaku 30 anggotanya akan siap, jika pemerintah sudah melakukan sosialisasi terlebih dahulu.

"Namun kenyataannya kebijakan ini baru diputuskan setelah kami menandatangani kontrak proyek. Melalui rapat anggota AABI tadi kami akan berkirim surat kepada Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi (LPJK) Jatim agar tahun ini tetap menggunakan aspal Pen 60-70 dulu, hingga ujicoba dari BNA sukses," jelasnya.

Ditambahkan, pengurus AABI DPD Jatim berharap, Kementrian PU sudah memberikan jawaban hingga 10 Juli mendatang, sebab jika tak ditanggapi dan usulan untuk menggunakan Pen 60-70 tak disetujui maka pengerjaan pengaspalan di berbagai ruas jalan provinsi dan nasional tak akan selesai.

"Kami tak ingin masalah ini mengirim berlarut-larut, sebab walaupun ada pertemuan bulan lalu antara kementrian PU, Balai Besar Pelaksana Jalan nasional V serta Bina Marga ternyata tak membuahkan hasil apa-apa. Kami para pekerja dilapangan masih terombang-ambing karena masalah ini," tandasnya.

0 komentar

Poskan Komentar

Pengikut

Daftar Label

Follow by Email

Ads 468x60px

Kalendar

Popular Posts

 
© Copyright 2010-2011 Wiro Sableng 810 All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.