Translate 2 ur Languages

Sabtu, 17 September 2011

KAB.TUBAN-Minyak Kedewan Hingga Kawengan, Siapa Berhak Menambang?


Minyak mentah dari sumber sumur tua yang banyak ditemukan di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro hingga Kawengan, Banyuurip, Tuban, yang secara geografis letaknya bersebelahan, sudah sedari dulu diambil dan menjadi mata pencaharian masyarakat secara tradisional.
Nah, ketika belakangan ini keberadaan para penambang tersebut dipersoalkan dengan berbagai alasan, mereka juga balik bertanya, bagaimana dengan para ‘pengusaha’ yang juga mengeruk keuntungan dari sana?
Berikut rona pernik sumur tua yang mulai mencuat dari ‘daratan’ asal muasalnya di Bojonegoro beberapa tahun silam yang dipenuhi intrik, airmata hingga darah kematian:
Ratusan sumur minyak mentah yang bertebaran di area hutan di wilayah Kecamatan Kedewan, Bojonegoro, telah menjadi mata pencaharian warga secara turun temurun. Minyak mentah yang ditambang secara tradisional
itu, hanya bagian sebuah upaya untuk memenuhi roda ekonomi keluarga. Akankah mata pencaharian itu mesti dimusuhi dan dikejar-kejar?
Mula pertama penambangan sumur tua di Desa Kedewan, Kecamatan Kedewan, berawal tahun 1904. Waktu itu di bawah komando pemerintahan Belanda. Pada perjalanannya kemudian, setelah sepasukan tentara pimpinan Jendral Sudirman berhasil menghalau dari Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, yang juga bertebaran sumur-sumur minyak, tambang tersebut dikelola mereka.
Sekitar tahun 1950-an dibentuk persatuan rakyat penambang yang anggotanya terdiri dari tiga desa yaitu Hargomulyo, Kedewan dan Wonocolo. Delapan tahun kemudian diselenggarakan pemilihan kepala desa, dan dua tahun berikutnya penambangan sumur-sumur minyak di sana dikelola oleh kepala desa terpilih. Wantah.
Jauh setelah itu, yakni sekitar tahun 1987, seperti dikisahkan Suradi, 51, salah seorang penambang di Desa Kedewan, bersama-sama dengan beberapa kawannya menelusuri mulut pipa yang dianggapnya sebagai sumber minyak mentah itu.
Meski perjalanan menemukan sumur minyak tersebut memakan waktu berbulan-bulan, para penambang tradisional ini tak pernah mundur. Mereka terus mencarinya.
“Dalam pencarian tersebut, mereka hanya mengandalkan nasib baik dan keberuntungan. Banyak cara dan upaya mereka lakukan, terkadang ada yang lewat mimpi dan ada juga yang memang menelusurinya melalaui perjalanan di hutan,” tutur Suradi. Itu pun seringkali memakan waktu sampai berbulan-bulan
tanpa memperokeh hasil apa-apa.
“Sebab mulut sumur tersebut tidak kelihatan. Kita melakukan penggalian lebih dahulu. Kalau diperkirakan ada baru digali. Biasanya kalau dapat petunjuk dari mimpi, dipastikan ada sumbernya dalam kandungan jumlah besar. Jasa para dukun sering kita perlukan juga,” kata penambang lainnya.
Seusai mencari sumur dan mendapatkannya, Suradi dan temannya-temannya
baru berpikir biaya operasionalnya. Karena biaya operasional pengeboran minyak cukup besar, hal tersebut menjadi kendala tersendiri. Maka tak jarang para penambang tersebut mencari investor dari luar daerah. Kebanyakkan dari Jakarta . Toh begitu, tidak sedikit investor yang merugi. Dikarenakan harga minyak yang tidak seimbang dengan biaya operasional.
“Bayangkan, saat ini harga solar saja sudah Rp. 4.500/lt. Sedang harga ongkos angkat angkutnya masih di bawah Rp 200/lt. Belum tenaga kerjanya yang tidak dihitung. Kondisi inilah yang kemudian membuat penambang banyak yang menjual di luar Pertamina. Sebab, harga jual di luar Pertamina lebih besar. Satu liter bisa sampai Rp. 1000, “ tukas Suradi.
Jangan Hanya Diburu, tapi Beri Solusi
Kisah pilu para penambang minyak yang hanya demi sesuap nasi, dikejar-kejar dan diburu dengan alasan melakukan pelanggaran, merupakan pengalaman rutin bagi mereka. Tengok dan lihatlah nasib mereka. Para penambang tradional, sesungguhnya menginginkan solusi terbaik bagi mereka dan pihak Pertamina.
Kenekadan warga melakukan aktifitas penambangan, lebih didasarkan pada faktor memenuhi kebutuhan hidup. Bukan untuk menumpuk kekayaan. Sejumlah warga Dusun Wonocolo, mengemukakan para penambang memberanikan diri nekad ‘menjual’ ke pihak luar, lebih diakibatkan oleh PT Pertamina sendiri.
“Ini sebetulnya tidak melanggar hukum. Karena kita bukan kontrak dengan Pertamina. Dan yang membuat seperti ini kan Pertamina sendiri, mengapa harga minyak mentah (maksudnya ongkos angkat angkut) terlalu rendah. Kalau ada akibatnya mesti ada sebabnya. Nah sebab inilah yang harus dicari solusinya. Jangan memojokkan rakyat kecil,” ungkap seorang perangkat desa setempat.
Alasan menjual di luar Pertamina, kata para penambang, memang masuk akal. Sebab, mereka tidak mau rugi. Kegiatan penambangan itu sendiri sebagai penopang hidupnya. Sumber kehidupan mereka satu-satunya adalah sumber lantung (minyak mentah, Red) tersebut.
“Daerah sekitar Kedewan sangat gersang. Tidak bisa untuk bercocok tanam. Dan penambangan di sumur minyak tersebut hanya boleh dikerjakan secara manual. Namun, ada memang yang ditarik dengan seling (sejenis rantai dari karet, Red) pakai mesin truk. Dan ada juga yang ditarik oleh tenaga manusia secara bersama-sama. Satu kelompok penambang antar 6 sampai 9 orang,” cerita Hadi, warga setempat.
Aturan penambangan yang diterapkan oleh Pertamina, dengan melarang memakai alat modern, dinilai para penambang tidak jelas konteksnya. “Alasan yang tidak jelas dari Pertamina itu, merupakan penghambat kemajuan dalam penambangan sumur tua,” ucap salah seorang penambang.
Diakui penambang, harga pembelian minyak mentah yang sangat murah dari Pertamina itu membuatnya kelabakkan. “Dengan harga pembelian yang minim itu kadang-kadang kami sebentar-sebentar libur. Sebab, tidak sesuai dengan operasional. Percuma saja bekerja,” katanya datar.
Menurut mereka, dengan cara memproses dan menjualnya sendiri, para penambang merasakan betul nikmatnya uang keringat dari hasil lantung. Hasilnya sesuai dengan harapan penambang. “ akunya.
Dengan memproses sendiri, para penambang tinggal menunggu kenaikkan harga minyak mentah dari Pertamina. Bertahun-tahun mereka mengharapkan kenaikkan harga minyak mentah tidak terwujud.
Entah apa yang membuat Pertamina tidak menaikkan harga minyak mentah itu. Kenaikkan yang alot itu memuat para penambang tidak mau menyetorkan ke Pertamina. Warga menginginkan adanya kenaikkan harga pembelian minyak mentah. Sehingga aktifitas penambangan mereka dapat dijadikan andalan untuk mempertahankan hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Minyak mentah dari sumber sumur tua yang banyak ditemukan di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro hingga Kawengan, Banyuurip, Tuban, yang secara geografis letaknya bersebelahan, sudah sedari dulu diambil dan menjadi mata pencaharian masyarakat secara tradisional.
Nah, ketika belakangan ini keberadaan para penambang tersebut dipersoalkan dengan berbagai alasan, mereka juga balik bertanya, bagaimana dengan para ‘pengusaha’ yang juga mengeruk keuntungan dari sana?
Berikut rona pernik sumur tua yang mulai mencuat dari ‘daratan’ asal muasalnya di Bojonegoro beberapa tahun silam yang dipenuhi intrik, airmata hingga darah kematian:
Ratusan sumur minyak mentah yang bertebaran di area hutan di wilayah Kecamatan Kedewan, Bojonegoro, telah menjadi mata pencaharian warga secara turun temurun. Minyak mentah yang ditambang secara tradisional
itu, hanya bagian sebuah upaya untuk memenuhi roda ekonomi keluarga. Akankah mata pencaharian itu mesti dimusuhi dan dikejar-kejar?
Mula pertama penambangan sumur tua di Desa Kedewan, Kecamatan Kedewan, berawal tahun 1904. Waktu itu di bawah komando pemerintahan Belanda. Pada perjalanannya kemudian, setelah sepasukan tentara pimpinan Jendral Sudirman berhasil menghalau dari Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, yang juga bertebaran sumur-sumur minyak, tambang tersebut dikelola mereka.
Sekitar tahun 1950-an dibentuk persatuan rakyat penambang yang anggotanya terdiri dari tiga desa yaitu Hargomulyo, Kedewan dan Wonocolo. Delapan tahun kemudian diselenggarakan pemilihan kepala desa, dan dua tahun berikutnya penambangan sumur-sumur minyak di sana dikelola oleh kepala desa terpilih. Wantah.
Jauh setelah itu, yakni sekitar tahun 1987, seperti dikisahkan Suradi, 51, salah seorang penambang di Desa Kedewan, bersama-sama dengan beberapa kawannya menelusuri mulut pipa yang dianggapnya sebagai sumber minyak mentah itu.
Meski perjalanan menemukan sumur minyak tersebut memakan waktu berbulan-bulan, para penambang tradisional ini tak pernah mundur. Mereka terus mencarinya.
“Dalam pencarian tersebut, mereka hanya mengandalkan nasib baik dan keberuntungan. Banyak cara dan upaya mereka lakukan, terkadang ada yang lewat mimpi dan ada juga yang memang menelusurinya melalaui perjalanan di hutan,” tutur Suradi. Itu pun seringkali memakan waktu sampai berbulan-bulan
tanpa memperokeh hasil apa-apa.
“Sebab mulut sumur tersebut tidak kelihatan. Kita melakukan penggalian lebih dahulu. Kalau diperkirakan ada baru digali. Biasanya kalau dapat petunjuk dari mimpi, dipastikan ada sumbernya dalam kandungan jumlah besar. Jasa para dukun sering kita perlukan juga,” kata penambang lainnya.
Seusai mencari sumur dan mendapatkannya, Suradi dan temannya-temannya
baru berpikir biaya operasionalnya. Karena biaya operasional pengeboran minyak cukup besar, hal tersebut menjadi kendala tersendiri. Maka tak jarang para penambang tersebut mencari investor dari luar daerah. Kebanyakkan dari Jakarta . Toh begitu, tidak sedikit investor yang merugi. Dikarenakan harga minyak yang tidak seimbang dengan biaya operasional.
“Bayangkan, saat ini harga solar saja sudah Rp. 4.500/lt. Sedang harga ongkos angkat angkutnya masih di bawah Rp 200/lt. Belum tenaga kerjanya yang tidak dihitung. Kondisi inilah yang kemudian membuat penambang banyak yang menjual di luar Pertamina. Sebab, harga jual di luar Pertamina lebih besar. Satu liter bisa sampai Rp. 1000, “ tukas Suradi.
Jangan Hanya Diburu, tapi Beri Solusi
Kisah pilu para penambang minyak yang hanya demi sesuap nasi, dikejar-kejar dan diburu dengan alasan melakukan pelanggaran, merupakan pengalaman rutin bagi mereka. Tengok dan lihatlah nasib mereka. Para penambang tradional, sesungguhnya menginginkan solusi terbaik bagi mereka dan pihak Pertamina.
Kenekadan warga melakukan aktifitas penambangan, lebih didasarkan pada faktor memenuhi kebutuhan hidup. Bukan untuk menumpuk kekayaan. Sejumlah warga Dusun Wonocolo, mengemukakan para penambang memberanikan diri nekad ‘menjual’ ke pihak luar, lebih diakibatkan oleh PT Pertamina sendiri.
“Ini sebetulnya tidak melanggar hukum. Karena kita bukan kontrak dengan Pertamina. Dan yang membuat seperti ini kan Pertamina sendiri, mengapa harga minyak mentah (maksudnya ongkos angkat angkut) terlalu rendah. Kalau ada akibatnya mesti ada sebabnya. Nah sebab inilah yang harus dicari solusinya. Jangan memojokkan rakyat kecil,” ungkap seorang perangkat desa setempat.
Alasan menjual di luar Pertamina, kata para penambang, memang masuk akal. Sebab, mereka tidak mau rugi. Kegiatan penambangan itu sendiri sebagai penopang hidupnya. Sumber kehidupan mereka satu-satunya adalah sumber lantung (minyak mentah, Red) tersebut.
“Daerah sekitar Kedewan sangat gersang. Tidak bisa untuk bercocok tanam. Dan penambangan di sumur minyak tersebut hanya boleh dikerjakan secara manual. Namun, ada memang yang ditarik dengan seling (sejenis rantai dari karet, Red) pakai mesin truk. Dan ada juga yang ditarik oleh tenaga manusia secara bersama-sama. Satu kelompok penambang antar 6 sampai 9 orang,” cerita Hadi, warga setempat.
Aturan penambangan yang diterapkan oleh Pertamina, dengan melarang memakai alat modern, dinilai para penambang tidak jelas konteksnya. “Alasan yang tidak jelas dari Pertamina itu, merupakan penghambat kemajuan dalam penambangan sumur tua,” ucap salah seorang penambang.
Diakui penambang, harga pembelian minyak mentah yang sangat murah dari Pertamina itu membuatnya kelabakkan. “Dengan harga pembelian yang minim itu kadang-kadang kami sebentar-sebentar libur. Sebab, tidak sesuai dengan operasional. Percuma saja bekerja,” katanya datar.
Menurut mereka, dengan cara memproses dan menjualnya sendiri, para penambang merasakan betul nikmatnya uang keringat dari hasil lantung. Hasilnya sesuai dengan harapan penambang. “ akunya.
Dengan memproses sendiri, para penambang tinggal menunggu kenaikkan harga minyak mentah dari Pertamina. Bertahun-tahun mereka mengharapkan kenaikkan harga minyak mentah tidak terwujud.
Entah apa yang membuat Pertamina tidak menaikkan harga minyak mentah itu. Kenaikkan yang alot itu memuat para penambang tidak mau menyetorkan ke Pertamina. Warga menginginkan adanya kenaikkan harga pembelian minyak mentah. Sehingga aktifitas penambangan mereka dapat dijadikan andalan untuk mempertahankan hidup.

0 komentar

Poskan Komentar

Pengikut

Daftar Label

Follow by Email

Ads 468x60px

Kalendar

Popular Posts

 
© Copyright 2010-2011 Wiro Sableng 810 All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.