Translate 2 ur Languages

Selasa, 25 Oktober 2011

PROVINSI JATIM-Inspektorat Pelototi Jalin Kesra Disnak Jatim

Inspektorat Provinsi Jatim belum berani membuka hasil pemeriksaan terkait kasus pemotongan jatah bantuan kambing untuk masyarakat miskin (maskin), dalam program Jalan Lain Menuju Kesejahteraan Rakyat (Jalin Kesra) Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jatim tahun 2011.

"Kami belum bisa membeberkan hasil pemeriksaan itu sekarang. Ini karena masa tugas tim Inspektorat di lapangan baru berakhir pada 21 Oktober 2011 (Jumat hari ini, red). Tim mulai bekerja sejak ramai diberitakan di media massa, sekitar dua minggu lalu," ujar Sekretaris Inspektorat Provinsi Jatim Bambang Sadono kepada beritajatim.com, Jumat (21/10/2011).

Mengapa begitu lama melakukan pemeriksaan di lapangan? Bambang menegaskan, tim Inspektorat harus melakukan penyelidikan di daerah pelosok pedesaan di Kabupaten Magetan yang terpencil dan membutuhkan waktu tidak bisa sebentar.

"Kalau tim sudah kembali dari lapangan dan selesai bekerja, kami akan laporkan ke gubernur dulu hasil pemeriksaannya. Nanti, terserah gubernur menentukan langkah apa selanjutnya terkait temuan Inspektorat itu," tukasnya.

Diberitakan sebelumnya, Inspektorat Jatim diam-diam telah terjun ke Desa Pragak, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan untuk menyelidiki kasus pemotongan jatah bantuan kambing untuk maskin, dalam program Jalin Kesra Dinas Peternakan (Disnak) Jatim.

"Tim Inspektorat Jatim telah turun ke Magetan. Kami juga masih menunggu hasil rekomendasi dari Inspektorat yang disampaikan kepada Pak Gubernur. Disnak Jatim berencana akan melaporkan ke kepolisian, bagi oknum kepala desa atau perangkat desa lainnya yang melakukan penyimpangan di lapangan," tutur Kadis Peternakan Jatim Suparwoko beberapa waktu lalu.

Suparwoko mengaku pihaknya telah diperintah secara lisan oleh Sekdaprov Jatim Rasiyo agar melaporkan oknum aparat desa yang terlibat dugaan pemotongan jatah bantuan ternak di lapangan. "Sebelum melaporkan ke polisi, kami tunggu perintah Pak Gubernur dulu, sembari menanti hasil pemeriksaan Inspektorat Jatim di lapangan," katanya.

Menurut dia, pihaknya mendapat informasi kalau ada oknum aparat desa 'bermain-main' di lapangan saat pendistribusian bantuan kambing 4 ekor ke setiap rumah tangga sangat miskin (RTSM). Banyak maskin penerima bantuan hanya diberikan 2 ekor kambing, dari jatah sebenarnya 4 ekor. "Kalau masyarakat penerima bantuan bilang dijual untuk bayar hutang, mungkin tidak masalah. Tapi kalau bilang kambing bantuan mati, kami akan kejar di mana kuburannya," ungkapnya.

Disnak Jatim tahun ini telah mengalokasikan anggaran Rp 129 miliar untuk bantuan ternak bagi 48.273 rumah tangga sangat miskin (RTSM) di 29 kabupaten. Program jalan lain menuju kesejahteraan rakyat (Jalin Kesra) dalam rangka mengentas kemiskinan ini merupakan gawe besar Pemprov Jatim.

Dari 29 kabupaten yang menjadi sasaran, hingga saat ini baru terdistribusi di 9 kabupaten dan kurang 20 daerah. Kesembilan daerah yang sudah menerima adalah Magetan, Ngawi, Jombang, Kediri, Tuban, Bojonegoro, Blitar, Probolinggo dan Lumajang.

Mereka yang menerima bantuan ternak mendapatkan paket senilai Rp 2,5 juta. Tapi tidak ada yang menerima uang, melainkan dalam bentuk hewan ternak. Bagi yang mendapat kambing diberikan sebanyak 4 ekor (3 ekor kambing betina dan 1 ekor kambing jantan). Sedangkan, yang menerima bantuan ayam atau itik, masyarakat diberi sebanyak 35 ekor. Itu masih ditambah biaya pakan dan pembuatan kandang. Untuk domba, sama seperti kambing yakni 4 ekor (3 betina dan 1 jantan).

Informasi yang didapat beritajatim.com, sayangnya, praktik pemberian bantuan ternak di lapangan ditemukan sejumlah penyelewengan. Di antaranya banyak masyarakat miskin yang hanya mendapat 1-2 ekor kambing saja dari jatah semestinya 4 ekor. Oknum aparat desa berdalih 2 ekor kambing lainnya akan dibagikan rata bagi masyarakat yang tidak memperoleh jatah, karena tidak terdata sebagai RTSM. Kalau tidak mau serahkan 2 ekor kambingnya, warga dimintai uang sebesar Rp 400 ribu untuk mengisi kas desa.

Ada lagi modus lainnya, kambing bantuan yang diberikan hanya diputarkan ke satu wilayah desa. Artinya, masyarakat seusai mendapat bantuan kambing, terus didatangi oknum aparat desa atau pedagang untuk dibelinya. Kemudian, kambing itu diberikan ke masyarakat lainnya, terus dibeli lagi dan begitu terus selanjutnya. Kambing bantuan itu biasa disebut sebagai 'kambing wisata'. Belum lagi banyaknya kambing bantuan yang tidak layak dan cepat mati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Inspektorat Provinsi Jatim belum berani membuka hasil pemeriksaan terkait kasus pemotongan jatah bantuan kambing untuk masyarakat miskin (maskin), dalam program Jalan Lain Menuju Kesejahteraan Rakyat (Jalin Kesra) Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jatim tahun 2011.

"Kami belum bisa membeberkan hasil pemeriksaan itu sekarang. Ini karena masa tugas tim Inspektorat di lapangan baru berakhir pada 21 Oktober 2011 (Jumat hari ini, red). Tim mulai bekerja sejak ramai diberitakan di media massa, sekitar dua minggu lalu," ujar Sekretaris Inspektorat Provinsi Jatim Bambang Sadono kepada beritajatim.com, Jumat (21/10/2011).

Mengapa begitu lama melakukan pemeriksaan di lapangan? Bambang menegaskan, tim Inspektorat harus melakukan penyelidikan di daerah pelosok pedesaan di Kabupaten Magetan yang terpencil dan membutuhkan waktu tidak bisa sebentar.

"Kalau tim sudah kembali dari lapangan dan selesai bekerja, kami akan laporkan ke gubernur dulu hasil pemeriksaannya. Nanti, terserah gubernur menentukan langkah apa selanjutnya terkait temuan Inspektorat itu," tukasnya.

Diberitakan sebelumnya, Inspektorat Jatim diam-diam telah terjun ke Desa Pragak, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan untuk menyelidiki kasus pemotongan jatah bantuan kambing untuk maskin, dalam program Jalin Kesra Dinas Peternakan (Disnak) Jatim.

"Tim Inspektorat Jatim telah turun ke Magetan. Kami juga masih menunggu hasil rekomendasi dari Inspektorat yang disampaikan kepada Pak Gubernur. Disnak Jatim berencana akan melaporkan ke kepolisian, bagi oknum kepala desa atau perangkat desa lainnya yang melakukan penyimpangan di lapangan," tutur Kadis Peternakan Jatim Suparwoko beberapa waktu lalu.

Suparwoko mengaku pihaknya telah diperintah secara lisan oleh Sekdaprov Jatim Rasiyo agar melaporkan oknum aparat desa yang terlibat dugaan pemotongan jatah bantuan ternak di lapangan. "Sebelum melaporkan ke polisi, kami tunggu perintah Pak Gubernur dulu, sembari menanti hasil pemeriksaan Inspektorat Jatim di lapangan," katanya.

Menurut dia, pihaknya mendapat informasi kalau ada oknum aparat desa 'bermain-main' di lapangan saat pendistribusian bantuan kambing 4 ekor ke setiap rumah tangga sangat miskin (RTSM). Banyak maskin penerima bantuan hanya diberikan 2 ekor kambing, dari jatah sebenarnya 4 ekor. "Kalau masyarakat penerima bantuan bilang dijual untuk bayar hutang, mungkin tidak masalah. Tapi kalau bilang kambing bantuan mati, kami akan kejar di mana kuburannya," ungkapnya.

Disnak Jatim tahun ini telah mengalokasikan anggaran Rp 129 miliar untuk bantuan ternak bagi 48.273 rumah tangga sangat miskin (RTSM) di 29 kabupaten. Program jalan lain menuju kesejahteraan rakyat (Jalin Kesra) dalam rangka mengentas kemiskinan ini merupakan gawe besar Pemprov Jatim.

Dari 29 kabupaten yang menjadi sasaran, hingga saat ini baru terdistribusi di 9 kabupaten dan kurang 20 daerah. Kesembilan daerah yang sudah menerima adalah Magetan, Ngawi, Jombang, Kediri, Tuban, Bojonegoro, Blitar, Probolinggo dan Lumajang.

Mereka yang menerima bantuan ternak mendapatkan paket senilai Rp 2,5 juta. Tapi tidak ada yang menerima uang, melainkan dalam bentuk hewan ternak. Bagi yang mendapat kambing diberikan sebanyak 4 ekor (3 ekor kambing betina dan 1 ekor kambing jantan). Sedangkan, yang menerima bantuan ayam atau itik, masyarakat diberi sebanyak 35 ekor. Itu masih ditambah biaya pakan dan pembuatan kandang. Untuk domba, sama seperti kambing yakni 4 ekor (3 betina dan 1 jantan).

Informasi yang didapat beritajatim.com, sayangnya, praktik pemberian bantuan ternak di lapangan ditemukan sejumlah penyelewengan. Di antaranya banyak masyarakat miskin yang hanya mendapat 1-2 ekor kambing saja dari jatah semestinya 4 ekor. Oknum aparat desa berdalih 2 ekor kambing lainnya akan dibagikan rata bagi masyarakat yang tidak memperoleh jatah, karena tidak terdata sebagai RTSM. Kalau tidak mau serahkan 2 ekor kambingnya, warga dimintai uang sebesar Rp 400 ribu untuk mengisi kas desa.

Ada lagi modus lainnya, kambing bantuan yang diberikan hanya diputarkan ke satu wilayah desa. Artinya, masyarakat seusai mendapat bantuan kambing, terus didatangi oknum aparat desa atau pedagang untuk dibelinya. Kemudian, kambing itu diberikan ke masyarakat lainnya, terus dibeli lagi dan begitu terus selanjutnya. Kambing bantuan itu biasa disebut sebagai 'kambing wisata'. Belum lagi banyaknya kambing bantuan yang tidak layak dan cepat mati.

0 komentar

Poskan Komentar

Pengikut

Daftar Label

Follow by Email

Ads 468x60px

Kalendar

Popular Posts

 
© Copyright 2010-2011 Wiro Sableng 810 All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.